Cileungsi – Meluncurkan Kreativitas dan Nalar Kritis! Roket Air Challenge Jadi Wajah Pembelajaran Kokurikuler Inovatif di SMP Muhammadiyah 2 Cileungsi.

Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Hal inilah yang ditunjukkan SMP Muhammadiyah 2 Cileungsi melalui kegiatan Kokurikuler Roket Air Challenge, sebuah program pembelajaran berbasis proyek yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik.

Kegiatan Roket Air Challenge dilaksanakan dalam empat pertemuan, yaitu pada 19 dan 28 November serta 12 dan 17 Desember 2025, dengan melibatkan seluruh peserta didik kelas VII, VIII, dan IX. Program ini menjadi bagian dari implementasi kokurikuler yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran, seperti IPA, Matematika, Seni Budaya, dan Informatika, dalam satu tema besar berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkannya secara langsung. Konsep gaya dorong, tekanan air, dan Hukum Newton yang selama ini dipelajari di kelas diwujudkan dalam bentuk nyata melalui proses perancangan, pembuatan, hingga pengujian roket air.

Pembelajaran Aktif dan Kolaboratif

Sebanyak 211 siswa mengikuti kegiatan ini dengan antusias, terdiri dari 55 siswa kelas VII, 96 siswa kelas VIII, dan 60 siswa kelas IX. Kegiatan berada di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah Nasikhudin, S.Sos., dengan dukungan penuh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Kesiswaan. Proyek ini dikoordinatori oleh Riah Hartini, S.Pd., serta difasilitasi oleh para wali kelas dan guru pendamping.

Tahapan kegiatan dirancang secara sistematis. Pada pertemuan awal, siswa diajak melakukan eksplorasi konsep melalui diskusi, ice breaking, dan analisis video simulasi roket air. Tahap ini bertujuan menumbuhkan rasa ingin tahu serta kemampuan bernalar kritis siswa terhadap fenomena ilmiah.

Selanjutnya, siswa bekerja dalam kelompok untuk merancang desain roket air, mulai dari bentuk badan, sirip, hingga hidung roket. Aspek kestabilan, fungsi, dan estetika menjadi perhatian utama dalam tahap desain. Setelah itu, siswa memasuki tahap pembuatan roket dengan memanfaatkan bahan sederhana dan daur ulang seperti botol plastik, kardus, dan plastisin.

Uji Coba dan Refleksi Bermakna

Puncak kegiatan berlangsung saat uji coba roket air di lapangan sekolah. Pada tahap ini, siswa melakukan peluncuran roket, mengukur jarak tempuh, mencatat waktu luncur, serta menganalisis hasil percobaan. Kegiatan diakhiri dengan presentasi dan refleksi kelompok untuk mengevaluasi kelebihan, kekurangan, serta kemungkinan perbaikan desain roket.

Hasil kegiatan menunjukkan capaian yang sangat positif. Sebagian besar kelompok berhasil membuat roket air yang dapat meluncur dengan baik dan stabil. Siswa juga mampu mengumpulkan data uji coba secara sistematis serta menjelaskan hubungan antara tekanan air, sudut peluncuran, dan jarak tempuh roket.

Menguatkan Profil Pelajar Pancasila

Tidak hanya memberikan dampak teknis, Roket Air Challenge juga memberikan dampak nonteknis yang signifikan. Kepercayaan diri siswa meningkat, kemampuan bekerja sama semakin terasah, serta komunikasi dan tanggung jawab dalam kelompok tumbuh dengan baik. Antusiasme siswa terhadap pembelajaran sains pun terlihat semakin tinggi.

Kegiatan ini secara nyata menguatkan dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya bernalar kritis, kreatif, dan gotong royong. Melalui pembelajaran kokurikuler berbasis proyek, siswa belajar menjadi individu yang aktif, kolaboratif, dan mampu memecahkan masalah secara nyata.

Ke depan, SMP Muhammadiyah 2 Cileungsi berencana untuk terus mengembangkan kegiatan kokurikuler serupa dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran intrakurikuler, serta mengadakan pameran karya siswa sebagai bentuk apresiasi dan motivasi berkelanjutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *